Blogger templates

Pages

Kamis, 14 November 2013

Sistem Ekonomi Indonesia

A. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari kata “systÄ“ma” (dalam Bahasa Yunani) yang mengandung arti “keseluruhan dari bermacam-macam bagian “.
Pengertian sistem menurut beberapa ahli :
L. James Havery
Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
C.W. Churchman. 
“Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk melaksanakan seperangkat tujuan.
B. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi adalah suatu proses penerapan yang saling behubungan dan berinteraksi yang dikembangkan oleh masyarakat dengan ciri dan identitas tersendiri.
Sistem Ekonomi terbagi menjadi 4 macam yaitu :
  1. Sistem Ekonomi Tradisional
  2. Sistem Ekonomi Sosialis/Terpusat
  3. Sistem Ekonomi Bebas/Liberal
  4. Sistem Ekonomi Campuran


1. Sistem Ekonomi Tradisional
Sistem ini memiliki tradisi aktivitas ekonomi yang dilakukan secara turun-temurun. Dan masyarakatnya tetap menjaga nilai budaya setempat, sehingga kegiatan perekonomiannya masih bergotong-royong dan kekeluargaan.
Adapun ciri-ciri dari sistem ekonomi tradisional antara lain adalah sebagai berikut :
  • Pembagian struktur kerja belum ada
  • Masih menggunakan tukar-menukar barang/barter
  • Sifat kekeluargaan tergolong tinggi
  • Proses produksinya tergantung pada alam,misalnya bertani, berladang, berkebun dan sebagainya
  • Alat untuk memproduksi sangat sederhana. 
2. Sistem Ekonomi Sosialis/Terpusat
Sistem ekonomi terpusat yang disebut juga sistem ekonomi sosialis adalah suatu sistem ekonomi yang seluruh sumber daya dan pengolahannya direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah.
Sistem ekonomi terpusat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Negara menguasai semua alat produksi
  • Produksi dilakukan untuk kebutuhan masyarakat
  • Kegiatan ekonomi direncanakan oleh negara dan diatur pemerintah secara terpusat
  • Hak milik individu tidak diakui
  • Pemerintah mengatur kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi **
3. Sistem Ekonomi Bebas/Liberal
Sistem ekonomi liberal yaitu sistem ekonomi di mana pengelolaan ekonomi diatur oleh kekuatan pasar (permintaan dan penawaran). Sistem ekonomi ini menghendaki adanya kebebasan individu dalam melakukan kegiatan ekonomi. Artinya, setiap individu diakui keberadaanya dan mereka bebas bersaing.
Ciri-cirinya :
  • Harga barang ditentukan oleh pasar
  • Timbulnya persaingan bebas
  • Adanya pengakuan terhadap hak individu
  • Setiap individu bebas mengejar keuntungan
  • Modal memegang peranan sangat penting. 
4. Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi campuran adalah sistem ekonomi yang berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang timbul dalam sistem ekonomi terpusat dan sistem ekonomi pasar. 
Ciri-ciri dari sistem ekonomi campuran :
  • Adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian
  • Adanya pihak swasta yang ikut berperan dalam kegiatan perekonomian

C. Sistem Perekonomian Indonesia
Sejak berdirinya negara Republik Indonesia, sudah banyak tokoh-tokoh negara pada saat itu telah merumuskan sistem perekonomian yang tepat bagi bangsa indonesia, baik secara individu maupun diskusi kelompok. Tokoh ekonomi indonesia saat itu, Sumitro Djojohadikusumo, dalam pidatonya di negara Amerika tahun 1949, menegaskan bahwa sistem yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam campuran tetapi dalam proses perkembanganya telah disepakati suatu bentuk ekonomi baru yang dinamakan sebagai Sistem Ekonomi Pancasila yang didalamnya mengandung unsur penting yang disebut Demokrasi Ekonomi.
Mengapa di[ilih sistem Demokrasi ekonomi, karena menurut beliau sistem Demokrasi Ekonomi memiliki ciri-ciri yang positif, diantaranya adalah :
  1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan.
  2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
  3. Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendakinya serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
  4. Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
  5. Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
  6. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Dengan demikian perekonomian Indonesia tidak mengizinkan adanya :
Free fiht liberalism, yaitu adanya suatu kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga memungkinkan terjadinya eksploitasi kaum ekonomi yang lemah dan terjajah dengan akibat semakin bertambah luasnya jurang pemisah si kaya dan si miskin.
Etatisme, yaitu keikutsertaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan motivasi dan kreasi masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat. Jadi masyarakat hanya bersikap pasif saja
Monopoli, suatu bentuk pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok tertentu, sehingga tidak memberikan pilihan lain pada konsumen untuk tidak mengikuti keinginan sang monopoli. Disini konsumen seperti robot yang diatur untuk mengikuti jalannya permainan.
Meskipun awal perkembangan perekonomian indonesia menganut sistem ekonomi pancasila. Ekonomi demokrasi dan mungkin ‘campuran’ namun bukan berarti sistem perekonomian liberalis dan etatisme tidak pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 1950-an sampai dengan tahun 1957-an merupakan bukti sejarah adanya corak liberalis dalam perekonomian Indonesia. Demikian juga dengan sistem etatisme, pernah juga mewarnai corak perekonomian di tahun 1960-an sampai masa orde baru.
Faktor-faktor penyebab kegagalan sistem perekonomian Indonesia adalah :
  • Program tersebut disusun oleh tokoh yang relatif bukan bidangnya, namun oleh tokoh politik, sehingga keputusan yang dibuat cenderung menitikberatkan pada masalah politik bukan masalah ekonomi.
  • Akibat lanjutan dari kegagalan diatas dana negara yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan kegiatan ekonomi justru dialokasikan untuk kepentingan politik dan perang.
  • Adanya kecenderungan terpengaruh untuk menggunakan sistem perekonomian yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
Akibat yang ditimbulkan dari sistem etatisme yang pernah terjadi di indonesia pada periode tersebut, yaitu :
  1. Semakin rusaknya sarana produksi dan komunikasi yang membawa dampak menurunnya nilai ekspor kita.
  2. Hutang luar negeri yang justru dipergunakan untuk proyek ‘Mercu Suar’
  3. Defisit anggaran negara yang makin besar
  4. laju pertumbuhan penduduk yang lebih besar dari pertumbuhan ekonomi
 D. Para Pelaku Ekonomi
            Mungkin dalam ilmu ekonomi mikro kita mengenal tiga pelaku ekonomi, yaitu :
  • Pemilik faktor produksi
  • Konsumen
  • Produsen
             Dan dalam ilmu ekonomi makro ada :
  • Sektor rumah tangga
  • Sektor swasta
  • Sektor pemerintah
  • Sektor luar negeri
Maka dalam perekonomian indonesia sendiri dikenal tiga pelaku pokok :
  1. Koperasi
  2. Sektor Swasta, dan
  3. Sektor pemerintah
sesuai dengan konsep trilogi pembangunan, yang masing-masing pelaku tersebut memiliki fungsi sebagai berikut :
  • Koperasi 
Sesuai dengan UU No. 25 Tahun 1992 pasal 4 menyatakan bahwa fungsi dan peran koperasi seperti berikut ini.
1) Membangun dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka.
2) Turut serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
  • Sektor Swasta
Peran yang diberikan sektor swasta dalam perekonomian Indonesia seperti berikut ini.
1) Membantu meningkatkan produksi nasional.
2) Menciptakan kesempatan dan lapangan kerja baru.
3) Membantu pemerintah dalam usaha pemerataan pendapatan.
4) Membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
5) Menambah sumber devisa bagi pemerintah.
6) Meningkatkan sumber pendapatan negara melalui pajak.
7) Membantu pemerintah memakmurkan bangsa.
  • Sektor Pemerintah
secara umum sektor pemerintah memiliki fungsi :
1) Mengelola cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak.
2) Sebagai pengelola bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya secara efektif dan efisien.
3) Sebagai alat bagi pemerintah untuk menunjang kebijaksanaan di bidang ekonomi.
4) Menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sehingga dapat menyerap tenaga kerja.



Rabu, 06 November 2013

Makalah Hubungan Persepsi dengan Prilaku dalam Organisasi

HUBUNGAN PERSEPSI DENGAN PRILAKU
DALAM ORGANISASI


MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
 “ PRILAKU ORGANISASI ”
yang dibina oleh Bapak Ali Sukamto, AP, S.AP, M.AP


oleh
Agus Sugiarno
NIM. 10.1.1.058-AN









SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (STISOSPOL)
“WASKITA DHARMA” MALANG
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

JULI 2013








Halaman
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
1. Latar Belakang......................................................................................... 1
2. Masalah Atau Topik Bahasan................................................................... 1
3. Tujuan Penulisan Makalah........................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 2
            1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi........................................... 2
            2. Teori Hubungan........................................................................................ 3
            3. Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Individu Lain......... 5
            4. Pembelajaran dan Pengetahuan................................................................ 7
            5. Pemahaman Individu dan Proses Beradaptasi terhadap Lingkungan...... 9
            6. Pembentukan perilaku.............................................................................. 9...........                        

BAB III PENUTUP.............................................................................................. 11
1. Kesimpulan............................................................................................. 11


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Persepsi adalah proses dimana individu dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberi arti bagi lingkungan mereka. Namun, apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realitas objektif. Walaupun seharusnya  tidak perlu ada, perbedaan tersebut sering timbul. Sebagai contoh, sesuatu yang mungkin bila semua karyawan dalam sebuah perusahaan menganggapnya sebagai tempat kerja yang baik, kondisi kerja yang menyenangkan, penugasan kerja yang menarik, bayaran yang bagus, tunjangan yang sangat bagus,manajemen yang pengertian dan bertanggung jawab. Tetapi, seperti yang diketahui oleh sebagian besar dari kita, adalah sangat luar biasa untuk menemukan kecocokan yang seperti itu.
       Mengapa persepsi itu penting dalam studi PO? Hanya karena perilaku individu didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri. Dunia yang dipersepsikan individu merupakan dunia yang mementingkan perilaku.
2. Masalah Atau Topik Bahasan
Sehubungan dengan latar belakang, penulis membatasi pada :
1)        Faktor yang mempengaruhi persepsi
2)        Teori hubungan dalam organisasi
3. Tujuan Penulisan Makalah
Secara rinci tujuan penulisan ini adalah untuk :
1)        Menerangkan persepsi dengan prilaku dalam organisasi.
2)        Membuktikan hubungannya persepsi dengan prilaku dalam organisasi.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
       Sejumlah faktor beroperasi untuk membentuk dan kadang mengubah persepsi. Faktor-faktor ini bisa terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang diartikan, atau dalam konteks situasi dimana persepsi tersebut dibuat.
       Ketika seorang individu melihat sebuah target dan berusaha untuk menginterpretasikan apa yang dilihat, interpretasi itu sangat dipengaruhi oleh berbagai karakteristik pribadi dari pembuat persepsi individual tersebut. Karakteristik pribadi yang memengaruhi persepsi meliputi sikap, kepribadian, motif, minat, pengalaman masa lalu dan harapan-harapan seseorang. Sebagai contoh, apabila anda mengharapkan para petugas polisi memiliki wewenang, orang-orang muda menjadi malas, atau para individu yang mendiami kantor umum tidak mengindahkan moral. Anda mungkin menganggap mereka seperti itu tanpa memedulikan sifat-sifat mereka yang sebenarnya.
       Karakteristik target yang diobservasi bisa memengaruhi apa yang diartikan. Individu yang bersuara keras cenderung diperhatikan dalam sebuah kelompok dibandingkan individu yang diam. Begitu pula dengan individu yang luar biasa menarik atau tidak menarik. Oleh karena target tidak dilihat secara khusus,hubungan sebuah target dengan latar belakangnya juga memengaruhi persepsi, seperti halnya kecenderungan kita untuk mengelompokkan hal-hal yang dekat dan hal-hal yang mirip. Sebagai contoh, kaum wanita, orang-orang kulit berwarna, atau anggota dari kelompok lain yang mempunyai berbagai karakteristik yang dapat dibedakan dengan jelas menurut ciri-ciri atau warna kulit sering kali dianggap sama dalam karakteristik-karakteristik lain yang tidak terkait.

       Konteks dimana kita melihat berbagai objek atau peristiwa juga penting.Waktu  sebuah objek atau peristiwa dilihat dapat memengaruhi perhatian, seperti halnya lokasi, cahaya, panas,atau sebuah faktor situasional lainnya. Sebagai contoh, di sebuah klub malam pada Sabtu malam, anda mungkin tidak memerhatikan seorang wanita berusia 22 tahun 'yang berpakaian sangat seksi'. Namun, wanita yang sama berpakaian hadir dikelas manajemen Anda dihari Senin pagi pasti akan mendapatkan perhatian Anda (dan perhatian seluruh kelas). Baik si pembuat persepsi maupun target tidak berubah antara hari Sabtu malam dan Senin pagi, tetapi situasinya berbeda.
       Persepsi Seseorang, Membuat penilaian tentang individu lain. Penerapan konsep persepsi yang paling relevan dengan perilaku organisasi adalah persepsi seorang individu yang dibuat tentang individu lainnya.
2. Teori Hubungan
       Usaha ketika individu –individu mengamati perilaku untuk menentukan apakah hal ini disebabkan secara internal atau external. Penentuan tersebut sebagian besar tergantung pada 3 faktor yaitu:
  1. Kekhususan
Kekhususan merujuk pada apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku berbeda dalam situasi-situasi yang berbeda. Apakah karyawan yang datang terlambat hari ini juga merupakan sumber keluhan dari rekan-rekan kerja karena menjadi individu yang mengabaikan komitmen secara tetap? Yang ingin kita ketahui adalah apakah perilaku ini tidak biasa? Bila ya, si pengamat cenderung memberi perilaku tersebut suatu hubungan eksternal. Apabila tindakan ini sudah biasa, tindakan ini mungkin akan dinilai sebagai hubungan internal.
  1. Konsensus
Apabila semua individu yang menghadapi situasi serupa merespons dalam cara yang sama, kita bisa berkata bahwa perilaku tersebut menunjukkan konsensus. Perilaku karyawan yang didiskusikan tersebut akan sesuai dengan kriteria ini apabila semua karyawan yang mengambil rute yang sama menuju tempat kerja juga terlambat. Dari perspektif hubungan, apabila konsensus tinggi, Anda diharapkan memberikan hubungan eksternal untuk keterlambatan karyawan teersebut. Sementara apabila karyawan lainnya yang mengambil rute yang sama bisa tiba tepat waktu ke tempat kerja kesimpulan.  
  1. Konsistensi                 
     Anda tentang sebab tersebut adalah hubungan internal. Akhirnya seorang karyawan mencari konsistensi dalam tindakan-tindakan seseorang. Apakah individu tersebut selalu merespons dalam cara yang sama? Datang terlambat 10 menit ketempat kerja tidak diartikan dalam cara yang sama untuk karyawan yang merupakan kesalahan yang tidak biasa (tidak pernah terlambat selama beberapa bulan) dengan karyawan yang keterlambatannya merupakan bagian dari pola rutin (terlambat dua atau tiga kali seminggu). Semakin konsisten perilaku, semakin besar kecenderungan pengamat untuk menghubungkannya dengan sebab-sebab internal.
            Kesalahan atau bias yang mengubah berbagai hubungan:
a)      Kesalahan hubungan yang fundamental.
Kecenderungan untuk merendahkan pengaruh faktor-faktor eksternal dan meninggikan faktor-faktor internal ketika membuat penilaian perilaku orang lain. Sebagai contoh, seorang manajer penjualan cenderung menghubungkan kinerja yang buruk dari para salesnya dengan kemalasan daripada dengan produk inovatif yang diperkenalkan oleh pesaing.
b)      Bias pemikiran diri sendiri
Kecenderungan bagi para individu untuk menghubungkan keberhasilan mereka sendiri dengan faktor-faktor internal, sementara menyalahkan faktor-faktor eksternal untuk kegagalan. Contohnya adalah perang Irak. Saat Amerika tampak akan menang, mereka mengumumkan bahwa misi terselesaikan namun saat senjata pemusnah massal tidak ditemukan, mereka menyalahkan kegagalan intelijen.
3. Jalan Pintas yang Sering Digunakan dalam Menilai Individu Lain
Kita menggunakan sejumlah jalan pintas ketika menilai individu lain. Mengartikan dan menginteraksikan apa yang dilakukan oleh individu lain sangatlah berat. Akibatnya, para individu mengembangkan berbagai teknik untuk membuat tugas tersebut menjadi lebih dapat diatur. Teknik-teknik ini sering kali berharga, mamungkinkan kita untuk membuat berbagai persepsi yang akurat dengan cepat dan memberikan data yang valid untuk membuat berbagai prediksi. Namun, teknik-teknik tersebut bukan merupakan teknik-teknik yang sangat mudah sehingga bisa dilakukan oleh siapapun, sebaliknya teknik-teknik tersebut dapat dan benar-benar menyulitkan kita. Pemahaman mengenai hal ini bermanfaat dalam mengenali kapan teknik-teknik tersebut dapat mengakibatkan penyimpangan yang signitifikan.
3.1 Persepsi Selektif
Menginterpretasikan secara selektif apa yang dilihat seseorang berdasarkan niat,latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang. Tetapi bagaimana cara memilih berfungsi sebagai jalan pintas dalam menilai indinividu lain? Karena kita tidak bisa menerima semua yang kita amati,kita hanya mengambil sedikit-sedikit. Bagian-bagian kecil tersebut tidak dipilih secara acak, melainkan dipilih secara selektif menurut minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap kita. Persepsi selektif memungkinkan kita membaca individu lain dengan cepat, tetapi tetap mendapat risiko bahwa kita mendapatkan gambaran yang tidak akurat. Karena kita melihat apa yang ingin kita lihat,kita bisa menarik kesimpulan yang tidak beralasan dari situasi yang ambigu.

3.2 Efek Halo
Ketika kita berbuat sebuah kesan umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik, seperti kepandaian, keramahan, atau penampilan, efek halo(halo efect) sedang bekerja.Fenomena ini sering kali muncul ketika para siswa menilai guru mereka. Para siswa mungkin memberikan keunggulan untuk satu sifat seperti antusiasme dan membuat seluruh evaluasi mereka dipengaruhi oleh bagaimana mereka menilai guru tersebut berdasarkan satu sifat itu. Jadi, seorang guru bisa jadi pendiam, percaya diri, pandai, dan sangat cakap, tetapi jika gayanya kurang bersemangat, para siswa mungkin akan memberikan nilai yang rendah untuk guru tersebut.
3.3 Efek-efek Kontras
Evaluasi tentang karakteristik-karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh perbandingan-perbandingan dengan orang lain yang baru ditemui, yang mendapat nilai lebih tinggi atau rendah untuk karakteristik-karakteristik yang sama. Seorang pelamar cenderung akan mendapat penilaian lebih baik jika didahului pelamar-pelamar dengan kemampuan menengah dan mendapat evaluasi kurang baik jika didahului oleh pelamar dengan kemampuan unggul.
3.4 Proyeksi
Kecenderungan untuk menghubungkan karakteristik-karakteristik diri sendiri dengan individu lain disebut proyeksi. Individu yang terlibat dalam proyeksi cenderung menerima individu lain sesuai dengan gambaran mereka sendiri dibandingkan berdasarkan hasil observasi mengenai gambaran individu tersebut. Misalnya Anda seorang yang jujur dan dapat dipercaya maka Anda akan cenderung menganggap orang lain jujur dan dapat dipercaya juga.


3.5 Pembentukan Stereotip
Adalah menilai seseorang berdasarkan persepsi tentang kelompok di mana ia bergabung. Kita mengandalkan generalisasi setiap hari karena hal itu akan membuat keputusan yang cepat dan akurat. Generalisasi adalah cara untuk menyederhanakan dunia yang kompleks, dan memungkinkan kita untuk mempertahankan konsistensi.

4. Pembelajaran dan Pengetahuan

Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespons sebagai hasil dari pengalaman sengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.

       Tiga teori pembelajaran yaitu, pengondisian klasik, pengondisian operant dan pembelajaran sosial.
4.1 Pengondisian klasik
Adalah jenis pengondisian dimana individu merespons beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan response baru. Pengondisian adalah pasif, sesuatu terjadi dan kita bereaksi dalam cara tertentu. Reaksi tersebut diperoleh sebagai response terhadap kejadian tertentu yang dikenali. Tetapi sebagian besar perilaku adalah dihasilkan bukan diperoleh. Contohnya jika seorang karyawan memilih untuk datang tepat waktu dan meminta bantuan atasan ketika mendapat masalah, atau bersikap santai saat tak ada karyawan lain yang melihat.
4.2 Pengondisian Operant
Adalah jenis pengondisian dimana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Pengondisian operant menyatakan bahwa perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya. Individu belajar berperilaku untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan. Perilaku yang mendapat penghargaan akan cenderung diulang sedangkan perilaku yang tidak mendapat penghargaan atau dihukum kecil kemungkinan untuk diulang. Pengondisian operant merupakan bagian dari konsep paham perilaku, yang menyatakan bahwa perilaku mengikuti rangsangan dalam cara yang tidak terpikirkan.
4.3 Pembelajaran Sosial
Adalah sebuah pandangan bahwa seseorang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Pengaruh model-model adalah sentral pada sudut pandang pembelajaran sosial. Empat proses telah ditemukan untuk menentukan pengaruh sebuah model pada seorang individu:
1)        Proses perhatian. Individu belajar dari sebuah model hanya ketika mereka mengenali dan mencurahkan perhatian pada fitur-fitur pentingnya. Kita cenderung sangat berpengaruh pada model yang menarik, tersedia secara  berulang-ulang, penting bagi kita, atau mirip dengan kita menurut perkiraan kita.
2)        Proses Penyimpanan. Pengaruh sebuah model akan bergantung pada seberapa baik individu mengingat tindakan model setelah model tersebut tidak lagi tersedia.
3)        Proses reproduksi motor. Setelah seseorang melihat sebuah perilaku baru dengan mengamati model, pengamtan tersebut harus diubah menjadi tindakan. Proses ini kemudian menunjukkan bahwa individu itu dapat melakukan aktivitas yang dicontohkan oleh model tersebut.
4)        Proses penegasan. Individu akan termotivasi untuk menampilakn perilaku yang dicontohkan jika tersedia insentif positif atau penghargaan. Perilaku yang diitegaskan secara positif akan mendapat lebih banyak perhatian dipelajari dengan lebih baik dan dilakukan lebih sering.
5. Pemahaman Individu dan Proses Beradaptasi terhadap Lingkungan.
Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan dengan mengondisikan atau menciptakan stimulus tertentu dalamlingkungan. Lingkungan dapat dibagai kedalam dua jenis yaitu :
1)        lingkungan objektif (segala sesuatu yang ada disekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan stimulus).
2)        lingkungan Effektif (sesuatu yang actual menstimulus individu sehingga     menimbulkan kesadaran tertentu pada dirinya untuk merespon).

Holistik atau Humanisme memandanng bahwa aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa stimulus yang datang dari lingkungan. Humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks apa (what), bagaimana (how) dan mengapa (why).
1)      What
Apa menunjukkan tujuan yang hendak dicapai dengan perilaku tersebut.
2)      How
Bagaimana menunjukkan jenis dan bentuk cara mencapai tujuan, yakni perilaku itu sendiri.
3)      why
Mengapa menunjukkan motivasi yang menggerakkan terjadinya dan berlangsungnya perilaku, baik bersumber dari diri individu (intrinsik) maupun yang bersumber dari luar individu (ekstrinsik).
6. Pembentukan perilaku
adalah secara sistematis menegaskan setiap urutan langkah yang menggerakkan seorang individu lebih dekat kepada response yang diharapkan.

Empat cara pembentukan perilaku adalah melalui penegasan positif, penegasan negatif, hukuman dan peniadaan.
1)      Penegasan positif
merupakan respons dengan sesuatu yang menyenangkan, misalnya atasan yang memuji bawahan yang telah mengerjakan pekerjaan dengan baik tepat pada waktunya.
2)      Penegasan negatif
adalah menindaklanjuti respos dengan penghentian atau penarikan sesuatu yang tidak menyenangkan
3)      Hukuman
menyebabkan sebuah kondisi tidak menyenangkan dalam upaya menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan.
4)      Peniadaan
adalah menghapuskan semua penegasan yang mempertahankan sebuah perilaku.











BAB III
PENUTUP

            Dalam bab ini berisi tentang kesimpulan, dimana kesimpulan merupakan penegasan kembali atau ringkasan dari pembahasan yang telah di lakukan dan diuraikan sebagai berikut :
1. Kesimpulan
1)      Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang diartikan, atau dalam konteks situasi dimana persepsi tersebut dibuat.
2)      Teori hubungan sebagian besar tergantung pada 3 faktor yaitu, kekhusunan, konsensus, konsistensi.
3)      Teknik-teknik dalam menilai individu lain dapat mengakibatkan penyimpangan yang signitifikan yaitu, persepsi selektif, elfek halo, efek-efek kontras, proyeksi, Pembentukan Stereotip.
4)      Tiga teori pembelajaran yaitu, pengondisian klasik, pengondisian operant dan pembelajaran sosial.
5)      Humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks apa (what), bagaimana (how) dan mengapa (why).
6)      Empat cara pembentukan perilaku adalah melalui penegasan positif, penegasan negatif, hukuman dan peniadaan.







Jumat, 11 Oktober 2013


Top of FormHaul Bung Karno

            Peringatan Haul Bung Karno selain acara peringatan hari meninggalnya Bung Karno sejak 21 Juli 1970, juga menjadi wahana untuk menteladani perjuangan dan ajaran Bung Karno. Acara puncak perayaan itu berlangsung di Rumah Gebang Istana Gebang atau Ndalem Gebang merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno.

Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung no. 69, Biltar. Sebagaimana acara haul Bung Karno dari tahun ke tahun selain di Istana Gebang Acara tersebut juga diselenggarakan di kompleks Makam Bung Karno yang dilanjutkan acara tabur bunga pada pagi harinya.